ILMU JARINGAN

WELCOME TO BLOGGER ILMU JARINGAN HENDRA LUBERS

Senin, 11 Maret 2013

LAPORAN PSG UNTUK WIRELLES NANO STATION(SMK 2013)


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Seiring dengan perkambangan teknologi informasi dan komunikasi yang berbasis jaringan lokal dan jaringan internet yang berkembang pesat dan membawa perubahan yang signifikan terhadap cara hidup manusia pada zaman sekarang ini. Semua pekerjaan ditutuntut untuk dikerjakan secara cepat, tepat dan efisien dalam pembagian dan memperoleh data-data yang dibutuhkan sehingga solusi dari permasalahan ini adalah menggunakan teknologi jaringaan lokal dan internet (Interconection Networking)
Seperti yang kita ketahui computer merupakan perkembangan dari teknologi informasi dan komunikasi itu sendiri. Sekarang ini telah banyak orang memanfaatkan computer sebagai alat untuk membantu dan menyelesaikan pekerjaan mereka. Karena apabila tidak menggunakan computer maka tidak akan dapat menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan tepat
Computer juga dapat digunakan dengan system jaringan lokal, atau yang kita kenal dengan LAN (Local Area Network). Di perusahan zaman sekarang juga telah banyak digunakan jaringan tanpa kabel yang disebut dengan wireless, wireless ini juga dapat dugunakan pada jaringan berbasis luas atau yang kita kenal di dunia teknologi adalah WAN (Wide Area Network). Delam pengunaan jaringan computer ini dapat memanfaatkan banyak hal seperti penggunaan software secara bersama-sama atau saling berbagi data. Istilah ini disebut dengan sharing.
Seringkali kita dengar istilah internet tersebut, sekilas kita akan berfikir bahwa jaringan internet adalah sebuah jaringan besar yang terdiri dari banyak computer, bahkan orang awam sering bilang internet tersebut adalah sebuah fasilitas bagi mereka untuk melakukan browsing,chating,dan lain-lain.
Namun sesungguhnya pengertian yang tepat mengenai jaringan internet (Interconection Networking) adalah kumpulan dari jaringan kecil dan besar yang terhubung sevara terus menerus (Real Time) di seluruh dunia. Saat ini di dunia industri sangat memandang penting jaringan informasi dan komunikasi berbasis jaringan tersebut karena teknologi ini adalah kebutuhan pokok bagi mereka untuk mencapai efisiensi dan efektifitas kerja.
1.2 Tujuan Pembuatan Laporan
Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah:
1. Untuk menambah pengetahuan dan pengalaman yang belum saya miliki.
2. Bukti secara tertulis bahwa saya sudah melakukan praktek kerja industri dari tanggal 5 januari 2011 sampai 30 april 2011.
3. Untuk mendapatkan nilai praktek industri.
1.3 Manfaat penulisan
Manfaat yang diperoleh dari penulisan laporan ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi masyarakat
a) Masyarakat khususnya konsumen dapat memanfaatkan jasa – jasa atau produk – produk yang ditawarkan terutama efisiensi dari segi waktu, tenaga dan pengeluaran biaya.
b) Penulisan ini dapat membuka lapangan pekerjaan khususnya di bidang TKJ (teknik komputer dan jaringan)
2. Bagi penulis
a) Penulis dapat turun langsung ke dunia kerja atau dunia industri untuk memperoleh pengetahuan dan wawasan yang tidak didapatkan di sekolah.
b) Penulis mendapatkan pemasukan tambahan dari dunia industri dan mendapatkan pengatahuan langsung terutama di bidang komputer dan jaringan. Serta mendapatkan ilmu penjualan.
3. Bagi dunia industri
Bagi dunia industri dapat mendapatkan bantuan tenaga kerja dari penulis serta sebagai alternatif untuk menarik minat konsumen, dimana pada akhirnya perusahaan mendapatkan keuntungan material.
1.4 Pembatasan Ruang Lingkup
Dalam laporan praktek industri ini saya akan menjelaskan mengenai “Konfigurasi Nano Station Sebagai Wireless Acess Point” , dan cara terminasi kabel UTP/STP straigh serta bahan – bahan yang harus disiapkan.
Selain materi yang disebutkan di atas bukan tanggung jawab saya untuk menjelaskanya.
BAB II
KAJIAN TEORISTIS
2.1 Metode pengumpulan data
Metode yang dipakai dalam pengumpulan data dalam laporan ini adalah :
a) Metode Kajian Pustaka
Metode kajian pustaka adalah suatu cara pendekatan penelitian dengan cara mengumpulkan data, dimana penulis lakukan lewat kepustakaan dengan mamapelajari teori- teori yang bersumber dari literature – literature yang relevan yaitu dari buku – buku dan internet dengan demikian data yang diperoleh oleh penulis adalah data sekunder.
b) Metode Observasi
Metode observasi dilakukan dengan cara melakukan pengamatan dan praktek kerja langsung di tempat industri yaitu di pusat informatika.
c) Metode Wawancara
Metode wawancara dilakukan dengan bertanya langsung dengan orang – orang yang mengetahui hal tersebut, dan penulis akan memperoleh informasi yang sangat berguna bagi pembuatan laporan ini.
2.2 Tempat dan Waktu Pengumpulan Data
Saya selaku penulis informasi yang saya dapat sejak pertama saya melakukan prakrin di tempat ini yang bertempat di.. Nama dan Lokasi mengenai tempat industry tersebut sebagai berikut:
Tempat : CV. Magnum Solusion
Alamat : Jalan Tukad Pakerisan 75 X, Panjer – Denpasar.
Telepon : (0361) 7426680

Dengan rincian sebagai berikut :
1. Pelaksanaan Penelitian
Saat saya melakukan penelitian mencakup pencarian dan pengumpulan data dari informan di tempat industri. Dimana, informasi (sumber informasi orang) tersebut merupakan teknisi dan pemilik tempat industry Pusat Informatika (PI)

2. Pengolahan Data dan Penyusunan Laporan Penelitian
Kegiatan prakrin dilakukan mulai tanggal 5 January 2011 sampai 30 April 2011.
2.3 Tinjauan Umum
2.3.1 pengertian wi-fi
Wi-f (wireless fidelity) adalah suatu standar wireless networking (spesifikasi transfer data WLAN) dengan peralatan yang sesuai kita bisa terkoneksi ke jaringan tanpa menggunakan kabel. Wi-Fi tidak hanya dapat digunakan untuk mengakses internet, Wi-Fi juga dapat digunakan untuk membuat jaringan tanpa kabel di perusahaan. Karena itu banyak orang mengasosiasikan Wi-Fi dengan “Kebebasan” karena teknologi Wi-Fi memberikan kebebasan kepada pemakainya untuk mengakses internet atau mentransfer data dari ruang meeting, kamar hotel, kampus, dan café-café yang bertanda “Wi-Fi Hot Spot”.Awalnya Wi-Fi ditujukan untuk pengunaan perangkat nirkabel dan Jaringan Area Lokal (LAN), namun saat ini lebih banyak digunakan untuk mengakses internet. Hal ini memungkinan seseorang dengan komputer dengan kartu nirkabel (wireless card) atau personal digital assistant (PDA) untuk terhubung dengan internet dengan menggunakan titik akses (atau dikenal dengan hotspot) terdekat.
Secara teknis operasional, Wi-Fi merupakan salah satu varian teknologi komunikasi dan informasi yang bekerja pada jaringan dan perangkat WLAN (wireless local area network). Dengan kata lain, Wi-Fi adalah sertifikasi merek dagang yang diberikan pabrikan kepada perangkat telekomunikasi (internet) yang bekerja di jaringan WLAN dan sudah memenuhi kualitas kapasitas interoperasi yang dipersyaratkan.
Teknologi internet berbasis Wi-Fi dibuat dan dikembangkan sekelompok insinyur Amerika Serikat yang bekerja pada Institute of Electrical and Electronis Engineers (IEEE) berdasarkan standar teknis perangkat bernomor 802.11b, 802.11a dan 802.16. Perangkat Wi-Fi sebenarnya tidak hanya mampu bekerja di jaringan WLAN, tetapi juga di jaringan Wireless Metropolitan Area Network (WMAN).
Karena perangkat dengan standar teknis 802.11b diperuntukkan bagi perangkat WLAN yang digunakan di frekuensi 2,4 GHz atau yang lazim disebut frekuensi ISM (Industrial, Scientific dan edical). Sedang untuk perangkat yang berstandar teknis 802.11a dan 802.16 diperuntukkan bagi perangkat WMAN atau juga disebut Wi-Max, yang bekerja di sekitar pita frekuensi 5 GHz.
Wi-Fi dirancang berdasarkan spesifikasi IEEE 802.11. Sekarang ini ada empat variasi dari 802.11, yaitu: 802.11a, 802.11b, 802.11g, and 802.11n. Spesifikasi b merupakan produk pertama Wi-Fi.
Spesifikasi Wi-Fi :
802.11b 11 Mb/s 2.4 GHz B
802.11a 54 Mb/s 5 GHz A
802.11g 54 Mb/s 2.4 GHz b, g
802.11n 100 Mb/s 2.4 GHz b, g, n
Metode keamanan Wi-fi ada tiga yaitu:
• WEP (Wired Equivalent Privacy). Metode ini dimaksudkan untuk menghentikan intersepsi isyarat gelombang elektromagnetik oleh user yang tidak berhak. Metode ini dilakukan dengan cara memberi semua klien dan access point dengan kunci enkripsi dan dekripsi yang sama. WEP didasarkan pada algoritma enkripsi RC4 dari RSA Data Systems.
• SSID (Service Set Identifier). Metode ini dilakukan dengan cara memberi suatu SSID yang berlaku sebagai password sederhana yang memungkinkan suatu jaringan WLAN dipisahkan dalam beberapa net¬work yang berbeda. Pengenal ini diprogram dalam access point, sehingga semua klien yang akan mengakses jaringan ini harus dikonfigurasi menggunakan pengenal SSID yang sesuai.
• Filter Alamat MAC (Media Access Control). Metode ini digunakan untuk membatasi akses pada jaringan WLAN menggunakan daftar alamat MAC pada klien. Alamat MAC ini dimasukkan dalam access point sedemikian, sehingga hanya klien yang punya alamat MAC yang terdaftar saja yang dapat mengakses jaringan WLAN.
2.3.2 Pengertian acces point
Acces point adalah sebuah node yang sudah di konfigurasikan untuk menghubungkan jaringan lokal dengan jaringan wireless. Acces point bertindak sebagai pemancar dan penerima sinyal-sinyal radio WLAN. Acces point sering disebut juga base station.
2.3.3 Fungsi antena GRID
Fungsi antena GRID adalah alat untuk mengirim dan menerima gelombang elektromagnetik, bergantung kepada pemakaian dan penggunaan frekuensinya, . Antena GRID adalah alat pasif tanpa catu daya(power), yang tidak bisa meningkatkan kekuatan sinyal radio, dia seperti reflektor pada lampu senter, membantu mengkonsentrasi dan memfokuskan sinyal.
Kekuatan dalam mengkonsentrasi dan memfokuskan sinyal radio, satuan ukurnya adalah dB. Jadi ketika dB bertambah, maka jangkauan jarak yang bisa ditempuhpun bertambah.
2.3.4 Pengertian PoE
Power over Ethernet (PoE) teknologi adalah sistem yang memanfaatkan kabel UTP twisted pair untuk mentransmisikan daya (power) melalui pair yang tidak terpakai. Seperti kita ketahui Kabel UTP Cat-5 misalnya hanya menggunakan 2 pair (4 urat) saja untuk Tx (+ dan -) dan Rx (+ dan -). Sementara dalam 1 kabel UTP (Unshielded Twisted Pair) terdapat 4 pair (8 urat) yang disediakan. Nah dua pair inilah yang bisa kita manfaatkan untuk mentransmisi power.

PoE seperti ini berguna jika salah satu perangkat tidak mendukung PoE, misakanl kita punya Wireless Access Point yang medukung PoE tapi switch yang kita pakai tidak terdapat fasilitas PoE. Supaya tidak perlu menarik kabel power ke acces point tersebut, bisa dipakai PoE seperti gambar di atas. Pada gambar tersebut, PoE yang digunakan adalah PoE build up atau buatan produsen PoE, dan bukan merupakan buatan sendiri.
2.3.5 Pengenalan NANO STATION.

NANO STATION merupakan produk Ubiquiti saat ini merupakan produk wireless paling populer di Indonesia, selain form factornya yang menarik, produk ini juga dikenal efisien dikarenakan sudah terintegrated dengan antena dual polarity 10 dBi, jadi tidak perlu lagi membeli antena tambahan, selain mudah pemasangannya, Nano Station2 ini juga mempunyai power yang besar sekitar 26db atau 400mw, jadi daya jelajahnya bisa kiloan meter jauhnya tanpa antena tambahan. Yang unik berbeda dengan access point lainnya, produk dari Kanada ini memiliki lampu indikator signal strength , jadi memudahkan kita untuk melihat kualitas sinyal tanpa perlu masuk ke web konfigurasinya, cukup melihat dari lampu indikator di bagian fisiknya saja.
Seperti biasanya untuk mengkonfigurasikan radio ini, kita harus mengakses via browser dengan IP address default 192.168.1.20, user name dan password "ubnt". Default radio ini dalam mode client, namun produk Ubiquti ini memiliki empat mode, yakni; station, station WDS, access point dan access pointWDS. Banyak konfigurasi yang unik dari radio yang berchipsetkan Atheros ini diantaranya kita bisa menset manual Country Code, Rate Power maximal ke 26dBm, Rate Mode, Rate Algorithm, Noise Immunity, uniknya lagi kita bisa men-set range daya jangkau jelajahnya berdasar Mile atau Kilometer. Pada mode station ada fitur menarik yakni MAC Clone, untuk mengkloning Nano Station yang kita miliki memiliki MAC Address yang berbeda, . Selain itu ada beberapa tool yang tersedia antara lain tool untuk test ping, traceroute, dan test speed.
2.3.6 Konstruksi/ model
dari gambar di atas dapat dilihat jaringan wireless di sebuah komplek perumahan, Berikut ini adalah penjelasan tentang gambar di atas:
- Pada gambar nomor 1 adalah acces point yang berfungsi memancarkan dan menerima sinyal-sinyal radio WLAN.
- Pada gambar nomor 2 adalah sebuah PC SERVER dari acces point tersebut, terdapat juga modem, router dan swicth di ruangan tersebut.
- Pada gambar nomor 3 terdapat user yang menggunakan PDA sebagai media untuk mengakses sinyal yang dipancarkan oleh acces point.
- Pada gambar nomor 4 terdapat user yang menggunakan wireless card sebagai media untuk mengakses sinyal yang dipancarkan oleh acces point tersebut.
BAB III
PELAPORAN
3.1 Alat dan bahan
3.1.1 alat :
3.1.1.1 Alat untuk memasang acces point
1. Obeng (-) dan (+)
2. Tang cucut
3.1.1.2 Alat untuk terminasi kabel STP
1. Tang potong / tang kombinasi
2. Catter
3. Tang crimping
4. Connector RJ 45
3.1.2 Bahan
3.1.2.1 Bahan untuk memasang acces point
1. Acces point (Nano Station2 10 dbi)
2. PoE ( Power Over Internet)
3. Antena Grid
4. Isolasi anti air ( untuk melindungi acces point dari hujan karena akan ditempatkan di luar ruangan) atau uotdor
5. Kabel STP (Shielded twister pair)
6. Kabel coaxial yang sudah di terminasi
3.1.2.2 Bahan untuk terminasi kabel STP
1. kabel STP cat 5e
2. Tang crimping
3. Tang potong/ tang kombinasi
4. Connector RJ45















3.2 Cara kerja
3.2.1 Cara terminasi kabel STP (straigthover)
1. Pertama – tama kita siapkan bahan dan alat – alat yang sudah di jelaskan pada bagian 3.1 di atas dan lakukan langkah – langkah sebagai berikut :

2. kupaslah kulit bagian utama dan bagian pelindung (timah) dari kabel tersebut dengan memakai tang crimping atau tang potong tergantung kenyaman kita dalam memakai alat tersebut, telitilah dalam mengupas kulit utama dan timah jangan sampai melukai bagian utama dari kabel tersebut. Bila bagian utama terkena goresan maka itu akan dapat menyebabkan kabel tidak berfungsi dengan maksimal.


3. Tatalah dengan rapi kabel - kabel utama tersebut. pada kabel utama terdapat 8 pin dengan warna yang berbeda, begitupun dengan conector yang akan kita gunakan.
Tatalah menurut gambar di atas, di gambar tersebut ada 2 buah conector yang akan digunakan segai ujung 1 dan ujung 2 dari kabel yang akan kita terminasi sekarang menjadi straigthover jadi warna kedua ujung kabel tersebut harus sama.

4. Setelah kita menata kabel tersebut langkah selanjutnya adalah memasukkan kabel yang kita tata tadi ke dalam konektor yang telah disiapkan, hati – hati dalam memasukkan kabel tersebut dan jangan sampai ada yang bertukar posisi antara kabel satu dengan yang lainnya, setelah kabel tersebut masuk ke dalam konektor, sebaiknya cek terlebih dahulu apakah benar kabel tersebut telah berada pada posisinya. Setelah itu pres dengan tang crimping, maka akan didapat hasil seperti gambar di atas.


NB : Apabila kabel tersebut memiliki grounding yang berbentuk seutas tembaga sebaiknya grounding tersebut jangan dipotong dan tempatkan di pangkal konektor
Grondingakan berguna saat acces point mendapatkan sambaran petir, power yang dihasilka oleh petir tidak akan sepenuhnya masuk ke dalam sistem acces point.




3.2.2 Cara setting Nano Station2 sebagai Wireless Acces Point
1. . Langkah pertama yang harus dilakukan untuk setting Nano Station yaitu setting pada “LAN” dari computer kita terlebih dahulu dengan cara sebagai berikut:




Pertama – tama anda klik “start” kemudian buka control panel, dan pilih “ Network Connections” dan pilih “local area conections”
 Pada tab tersebut anda cari “internet protocol (TCP/IP)” dan klik pada teks tersebut,
 Kemudian pilih “use the following IP address” dan isikan alamat IP “192.168.1.100” subnet mask”255.255.255.0 (sudah terkonfigurasi secara otomatis) dan default gateway “192.168.1.20” ,
Mengapa kita pakai alamat sebagai berikut? karena IP default dari nano station adalah 192.168.1.20, maka ip pada computer anda harus satu segmen dengan IP yang dimiliki oleh perangkat tersebut, jadi kita tidak perlu memakai IP obtain dan melihat geteway yang akan anda dapat.
 IP default dan password dari Nano Station dapat anda lihat pada box dari perangkat tersebut, atau browser di internet.


2. setting pada sistem Nano Station, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan PoE yang menjadi power pada nano station, bisa anda lihat pada lampu power PoE tersebut apakah sudah menyala atau belum, bila sudah menyala berarti siap untuk digunakan. Masukkan kabel UTP/STP yang sudah di terminasi ke dalam data port “data out” dan hubungkan ke dalam port LAN Nano Station, pada port data “in” masukkan kabel UTP/STP yang sudah di terminasi ke dalam port computer anda, bila LAN sudah connect maka sistem dapat diakses.
 Selanjutnya pilih salah satu browser pada komputer anda, bila sudah muncul tampilan pada browser anda selanjutnya masukkan IP address default dari nano station yaitu: “192.168.1.20”, maka akan muncul tampilan seperti di bawah ini:
 Bila sudah muncul seperti tampilan di atas, terdapat perintah untuk memasukkan user name dan password, berikut ini adalah username dan password default dari nano station tersebut :
username: “ubnt:
password: “ubnt”
bila usermname dan password telah dimasukkan dengan benar maka anda akan masuk ke tab MAIN seperti yang terlihat di gambar di bawah ini:
3. Setting pada tab MAIN
 Di dalam tab main sebenarnya tidak ada pilihan yang harus diubah kecuali pemilihan chanel, chanel tersebut digunakan pada saat nano station bertindak sebagai mode bridge. Jadi jika difungsikan sebagai acces point maka tidak harus merubah chanel dari nano station tersebut.
 Tab main adalah tab untuk melihat status dari nano station tersebut
Ø jika telah connect maka akan terisi dengan lengkap, di dalam gambar di atas statusnya belum lengkap karena belum terhubung dengan internet.
 Bila setting di tab main sudah selesai maka kita akan masuk ke dalam tab main setup, seperti gambar di bawah ini :
Ø
4. Setting pada tab LINK SETUP,
 Pada tab ling setup pertama – tama yang harus kita rubah adalah wireless mode, disana terdapat banyak pilihan diantaranya acces point, acces point WDS, station WDS dan bridge, karena kita akan menjadikan sebagai acces point maka kita pilih mode acces point.
 Pada pemiliha country of (nama Negara tempat acces point) saya pilih
Ø Indonesia ,pemilihan negara ini sebenarnya tidak begitu penting, jadi kita dapat memilih sesuai keinginan kita.
 Selanjutnya kita pilih SSID atau nama wireless, tergantung keinginan
Ø anda untuk menentukan nama wireless yang akan digunakan, sebagai contoh saya gunakan saja “magnum_teknisi” sebagai nama dari wireless tersebut.
 Selanjutnya ubah output power (kekuatan sinya dari acces point tersebut), sebagai contoh saya gunakan 26 dbm “maksimal”
Ø
 Selanjutnya kita akan pilih “wireless security”, anda pilih WPA dan
Ø isikan password dari wireless anda sebagai contoh saya gunakan “decade2011” sebagai password dari wireless tersebut.
 Jika sudah selesai setting di LINK SETUP maka kita akan melanjutkan
Ø setting di Tab NETWORK klik “NETWORK” dan anda akan meliha tampilan seperti di bawah ini :
5. Setting pada tab setting pada tab NETWORK,

 Pada NETWORK SETUP
Ø terdapat network mode dan disable network, kedua settingan tersebut tidak usah di rubah,
 Pada NETWORK SETTING
Ø kita pilih IP static dan centang pada kolom tersebut, jangan lupa isikan kolom tersebut sesuai perintang yang telah ada pada kolom tersebut, sebagai contoh saya isikan seperti di bawah ini
• IP address: 192.168.1.20
• Netmask : 255.255.255.0
• Gateway IP : 192.168.1.254 (saya gunakan IP ruoter sebagai geteway )
• Primary DNS IP : 202.134.0.115
• Secondary DNS IP : 202.134.1.10
(DNS adalah ip dari ISP (internet service provider) yang kita gunakan, seperti DNS di atas adalah DNS dari ISP speedy)
 Setelah kita tekan tombol CHANGE, biarkan device tersebut loading untuk menyimpan settingan yang sudah anda masukkan.
Ø
 Selanjutnya setting pada tab ADVANCED, setelah kita masuk ke tab tersebut, maka akan mucul tampilan seperti di bawah ini :
Ø

6. Setting pada tab ADVANCED

 Bila anda sudah masuk pada tab advanced, seperti yang terlihat pada
Ø gambar di atas maka settinglah distance (jarak jangkau dari acces point), perlu diperhatikan adalah jarak jangkau dari acces point yang kita miliki sebaiknya disesuaikan sesuai kebutuhan kita. Sebagai contoh saya gunakan 32,7 miles (52,6 km), maksimal,
 Selanjutnya kita pilih jenis antenna yang akan kita gunakan pada kolom
Ø antenna setting, disana terdapat antenna vertical, horizontal dan external, sebagai contoh saya gunaka antenna external sebagai antenna dari acces point tersebut. Karena saya akan menggunakan antenna grid sebagai antenna dari nano station.
 Selain yang disebutkan di atas settingan yang lain tidak perlu di
Ø rubah dalam mode acces point, jka sudah selesai kita tekan tombol CHANGE, biarkan device loading untuk menyimpan setting yang telah kita buat.
 Selanjutnya kita akan setting pada tab SERVICES,
Ø jika sudah masuk ke dalam tab tersebut, akan muncul tampilan seperti di bawah ini :

 Di dalam tab ini, tidak perlu ada yang di rubah settinganya, karena
Ø suda terkonfigurasi secara otomatis, jika kita menggunakan mode acces point,
 Selanjutya kita akan setting pada tab system, klik tab system dan akan muncul tampilan seperti di bawah ini :
Ø
7. Setting pada tab system

 Di dalam tab SYSTEM terdapat beberapa pilihan yang sebenarnya tidak
Ø perlu dirubah tergantung pemakaian dan keperluan anda, berikut ini saya akan menjelaskan kolom – kolom yang terdapat pada tab system pada nano station2 10dbi. Penjelasannya adalah sebagai berikut :
• FIRMWARE digunakan saat anda ingin mengupgrade sistem di dalam ROM (Read Only Memory) di dalam acces point tersebut, lebih jelasnya mengupgrade sistem pada perangkat Nano Station, hal ini dilakukan jika misalkan sistem pada Nano Station tidak suport pada sistem operasi tertentu. Anda bisa memperoleh sisyem yang baru dengan cara mem-downloadnya di internet.
• HOST NAME digunakan untuk mengubah host name atau nama dari Nano Station tersebut.
• ADMINISTRATIVE ACCOUNT digunakan pada saat anda ingin merubah akun pada saat logon ke dalam Nano Station tersebut, contohnya anda ingin merubah password pada saat login untuk menghindari orang lain dapat masuk ke dalam sistem acces point kita.
• INTERFACE LANGUANGE digunakan untuk menngubah bahasa dari Nano Station.
• LOGO CUSTOMIZATION digunakan untuk mengubah logo dari nano station tersebut,
• CONFIGURATION MANAGEMENT digunakan untuk membackup atau memasukkan settingan yang telah anda miliki. Jadi anda tidak perlu men-setting Nano Station tersebut, karena sudah di ditect secara otomatis.
 Apabila sudah selesai mensetting, langkah selanjutnya adalah merestart
Ø Nano Station tersebut, untuk merestart tekan tombol reboot dan tunggu sebantar sampai selesai merestart.
 Pasang aintena GRID yang sudah disiapkan, masukkan connector coaxial
Ø antena ke dalam port coaxial yang dimiliki Nani Station tersebut,
 Langkah terakhir adalah lihat sinyal stregth pada bagian belakang Nano
Ø Station, dan tempatkan di tempay yang strategis agar dapa diperoleh signyal yang terbaik.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1Kesimpulan
Berdasarkan kegiatan praktek industri yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesumpulan bahwa kegiatan praktek tersebut telah memberikan pengetahuan dan penggalaman bagi siswa- siswi SMK Negeri 1 Denpasar. Kegiatan tersebut bermanfaat untuk belajar praktek langsung di lapangan terhadap konsumen yang sebenarnya dan belajar ilmu penjualan. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dapat membuka peluang lebih besar dalam mencari pekerjaan bahkan membuka lapangan pekerjaan minimal untuk diri sendiri. Lebih dapat memperdalam ilmu yang didapatkan di sekolah dan juga menerapkanya secara langsung di dunia industri.
Pemasalahan yang sering terjadi pada kegiatan praktek selama ini adalah:
1. Konektor pada kabel LAN biasanya longgar, Masalah ini dapat diatasi dengan mengkeratkan kembali konektor tersebut atau mengganti dengan konektor yang baru.
2. Pada jaringan wi-fi biasanya terjadi dimana perangkat acces point tersebut mereset dengan sendirinya akibat IP (Internet Protocol) yang sama segmen dengan perangkat lainya, hal ini dapat diatasi dengan mengganti IP dari salah satu perangakat tersebut misalnya 192.168.1.20 kita ganti dengan 192.168.2.20.
3. Pada acces point yang ditimpatkan di luar ruang (Outdor) biasanya rentan sekali terhadap serangan petir yang mengakibatkan rusaknya device tersebut, hal ini dikarenaka kurangnya grounding pada acces point tersebut, dan hal yang dilakukan adalah memesang grounding pada ecces point tersebut.
4.2 Saran
4.2.1 Saran kepada teman - teman
• Bersikaplah ramah – tamah dangan konsumen atau senior kita.
• Jangan terburu – buru dalan terminasi kabel UTP/STP, lihatlah warna kabel dengan teliti dan pada saat merimpingya, pastika bahwa kabel telah merekat kuat pada konektornya.
• Pada sat memasang power apapun yang berhubungan dengan arus listrik sebaiknya memakai alas kaki untuk menghindari terkena arus listrik.
• Tempatkanlah acces point di tempat yang strategis dan tidak tertutup hal ini bertujuan untuk memperoleh kualitas sinyal yang terbaik pada acces point tersebut.
• Pada saat memasukkan kabel ke PoE (power over internet) perlu di ingat bahwa, disana terdapat 2 port ( data in dan data uot), data in tersebut berfungsi sebagai LAN yang akan dihubungkan ke PC/laptop, dan data out berfungsi sebagai power dari acces point tersebut.
• Saya ingin memberikan saran kepada teman- teman yang melaksanakan praktek industri agar memanfaatkan waktu dengan sebaik – baiknya, dan tidak membuang – buang waktu dengan hal – hal yang tidak berguna serta bersifat negatif.
4.2.2 Saran kepada ibu/Bapak pembimbing
• Saya berharap kepada Ibu/Bapak guru pembimbing di industri agar lebih mamperhatikan siswa- siswinya yang sedang menjalankan prektek kerja lapangan, dengan secara rutin mengunjungi siswa- siswinya ke tempat industri yang bersangkutan, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan misalnya murid membolos pada saat jam kerja.
• Kegiatan ini agar terus dilakukan, agar sisiwa – siswi memperoleh pengetahuan dan pengalaman kerja yang tidak didapatkan di sekolah.



semoga bermanfaat yaaaaaa....
salam dari saya...hendra lubers

Selasa, 26 Februari 2013

Perintah-perintah pada mikrotik



Dalam kesempatan kali ini akan kami jelaskan mengenai perintah dasar mikrotik. Perintah mikrotik sebenarnya hampir sama dengan perintah yang ada dilinux, sebab pada dasarnya mikrotik ini merupakan kernel Linux, hasil pengolahan kembali Linux dari Distribusi Debian. Pemakaian perintah shellnya sama, seperti penghematan perintah, cukup menggunakan tombol TAB di keyboard maka perintah yang panjang, tidak perlu lagi diketikkan, hanya ketikkan awal nama perintahnya, nanti secara otomatis Shell akan menampilkan sendiri perintah yang berkenaan. Misalnya perintah IP ADDRESS di mikrotik. Cukup hanya mengetikkan IP ADD spasi tekan tombol TAB, maka otomatis shell akan mengenali dan menterjemahkan sebagai perintah IP ADDRESS.
Nah untuk awal, saya akan menjelaskan perintah-perintah yang sering digunakan, yaitu :
1. Untuk shutdown dan restart komputer, yaitu dengan perintah
[admin@Mikrotik]>system shutdown –> untuk mematikan
[admin@Mikrotik]>system reboot –> untuk restart komputer
[admin@Mikrotik]>system reset –> untuk me-reset konfigurasi yang sudah dibuat sebelumnya
2. Untuk merubah nama mesin MikroTik, yaitu :
[admin@Mikrotik]>/system identity
[admin@Mikrotik]/system identity> set name=proxy
3. Untuk merubah password mesin MikroTik, yaitu :
[admin@Mikrotik]>/system password
[admin@Mikrotik]>/system password>old password (ketikkan password lama)
[admin@Mikrotik]>/system password>
new password: …….(ketikkan password baru)
[admin@Mikrotik]>/system password> retype new password: …….(ketikkan lagi password baru)
Baiklah kita lanjutkan pengenalan perintah ini.
Setelah login, cek kondisi interface atau ethernet card.
–[1]– Melihat kondisi interface pada Mikrotik Router
[admin@Mikrotik] > interface print
Flags: X – disabled, D – dynamic, R – running
#    NAME                         TYPE             RX-RATE    TX-RATE    MTU
0  R ether1                        ether            0          0          1500
1  R ether2                       ether            0          0          1500
[admin@Mikrotik]>
Jika interfacenya ada tanda X (disabled) setelah nomor (0,1), maka periksa lagi
etherned cardnya, seharusnya R (running).
a. Mengganti nama interface
[admin@Mikrotik] > interface(enter)
b. Untuk mengganti nama Interface ether1 menjadi Public (atau terserah namanya), maka
[admin@Mikrotik] interface> set 0 name=Public
c. Begitu juga untuk ether2, misalkan namanya diganti menjadi Local, maka
[admin@Mikrotik] interface> set 1 name=Local
d. atau langsung saja dari posisi root direktori, memakai tanda “/”, tanpa tanda kutip
[admin@Mikrotik] > /interface set 0 name=Public
e. Cek lagi apakah nama interface sudah diganti.
[admin@Mikrotik] > /interface print
Flags: X – disabled, D – dynamic, R – running
#    NAME                         TYPE             RX-RATE    TX-RATE    MTU
0  R Local                        ether            0          0          1500
1  R Public                       ether            0          0          1500
–[2]– Mengganti password default
Untuk keamanan ganti password default
[admin@Mikrotik] > password
old password: *****
new password: *****
retype new password: *****
[admin@ Mikrotik]]>
–[3]– Mengganti nama hostname
Mengganti nama Mikrotik Router untuk memudahkan konfigurasi, pada langkah ini
nama server akan diganti menjadi “routerku”
[admin@Mikrotik] > system identity set name=routerku
[admin@routerku]>
–[4]– Setting IP Address, Gateway, Masqureade dan Name Server
–[4.1]– IP Address
Bentuk Perintah konfigurasi
ip address add address ={ip address/netmask} interface={nama interface}
a. Memberikan IP address pada interface Mikrotik. Misalkan Public akan kita gunakan untuk
koneksi ke Internet dengan IP 192.168.1.2 dan Local akan kita gunakan untuk network LAN
kita dengan IP 192.168.0.30 (Lihat topologi)
[admin@routerku] > ip address add address=192.168.1.2
netmask=255.255.255.0 interface=Public comment=”IP ke Internet”
[admin@routerku] > ip address add address=192.168.0.30
netmask=255.255.255.224 interface=Local comment = “IP ke LAN”
b. Melihat konfigurasi IP address yang sudah kita berikan
[admin@routerku] >ip address print
Flags: X – disabled, I – invalid, D – dynamic
#   ADDRESS            NETWORK         BROADCAST       INTERFACE
0   ;;; IP Address ke Internet
192.168.0.30/27   192.168.0.0    192.168.0.31      Local
1   ;;; IP Address ke LAN
192.168.1.2/24    192.168.0.0    192.168.1.255     Public
[admin@routerku]>
–[4.2]– Gateway
Bentuk Perintah Konfigurasi
ip route add gateway={ip gateway}
a. Memberikan default Gateway, diasumsikan gateway untuk koneksi internet adalah
192.168.1.1
[admin@routerku] > /ip route add gateway=192.168.1.1
b. Melihat Tabel routing pada Mikrotik Routers
[admin@routerku] > ip route print
Flags: X – disabled, A – active, D – dynamic,
C – connect, S – static, r – rip, b – bgp, o – ospf
#     DST-ADDRESS     PREFSRC       G GATEWAY        DISTANCE   INTERFACE
0 ADC 192.168.0.0/24   192.168.0.30                             Local
1 ADC 192.168.0.0/27  192.168.1.2                               Public
2 A S 0.0.0.0/0                     r 192.168.1.1               Public
[admin@routerku]>
c. Tes Ping ke Gateway untuk memastikan konfigurasi sudah benar
[admin@routerku] > ping 192.168.1.1
192.168.1.1  64 byte ping: ttl=64 time<1 ms
192.168.1.1  64 byte ping: ttl=64 time<1 ms
2 packets transmitted, 2 packets received, 0% packet loss
round-trip min/avg/max = 0/0.0/0 ms
[admin@routerku]>
–[4.3]– NAT (Network Address Translation)
Bentuk Perintah Konfigurasi
ip firewall nat add chain=srcnat action=masquerade out-inteface={ethernet
yang langsung terhubung ke Internet atau Public}
a. Setup Masquerading, Jika Mikrotik akan kita pergunakan sebagai gateway server maka agar
client computer pada network dapat terkoneksi ke internet perlu kita masquerading.
[admin@routerku] > ip firewall nat add chain=scrnat out-interface=Public action=masquerade
[admin@routerku]>
b. Melihat konfigurasi Masquerading
[admin@routerku] ip firewall nat print
Flags: X – disabled, I – invalid, D – dynamic
0   chain=srcnat out-interface=Public action=masquerade
[admin@routerku]>
–[4.4] Name server
Bentuk Perintah Konfigurasi
ip dns set primary-dns={dns utama} secondary-dns={dns ke dua}
a. Setup DNS pada Mikrotik Routers, misalkan DNS dengan Ip Addressnya
Primary = 202.134.0.155, Secondary = 202.134.2.5
[admin@routerku] > ip dns set primary-dns=202.134.0.155 allow-remoterequests=yes
[admin@routerku] > ip dns set secondary-dns=202.134.2.5 allow-remoterequests=yes
b. Melihat konfigurasi DNS
[admin@routerku] > ip dns print
primary-dns: 202.134.0.155
secondary-dns: 202.134.2.5
allow-remote-requests: no
cache-size: 2048KiB
cache-max-ttl: 1w
cache-used: 16KiB
[admin@routerku]>
c. Tes untuk akses domain, misalnya dengan ping nama domain
[admin@routerku] > ping yahoo.com
216.109.112.135 64 byte ping: ttl=48 time=250 ms
10 packets transmitted, 10 packets received, 0% packet loss
round-trip min/avg/max = 571/571.0/571 ms
[admin@routerku]>
Jika sudah berhasil reply berarti seting DNS sudah benar.
Setelah langkah ini bisa dilakukan pemeriksaan untuk koneksi dari jaringan local. Dan jika
berhasil berarti kita sudah berhasil melakukan instalasi Mikrotik Router sebagai Gateway
server. Setelah terkoneksi dengan jaringan Mikrotik dapat dimanage menggunakan WinBox yang
bisa di download dari Mikrotik.com atau dari server mikrotik kita. Misal Ip address server
mikrotik kita 192.168.0.30, via browser buka http://192.168.0.30. Di Browser akan ditampilkan
dalam bentuk web dengan beberapa menu, cari tulisan Download dan download WinBox dari situ.
Simpan di local harddisk. Jalankan Winbox, masukkan Ip address, username dan password.
–[5]– DHCP Server
DHCP merupakan singkatan dari Dynamic Host Configuration Protocol, yaitu suatu program yang
memungkinkan pengaturan IP Address di dalam sebuah jaringan dilakukan terpusat di server,
sehingga PC Client tidak perlu melakukan konfigurasi IP Addres. DHCP memudahkan administrator
untuk melakukan pengalamatan ip address untuk client.
Bentuk perintah konfigurasi
ip dhcp-server setup
dhcp server interface = { interface yang digunakan }
dhcp server space = { network yang akan di dhcp }
gateway for dhcp network = { ip gateway }
address to give out = { range ip address }
dns servers = { name server }
lease time = { waktu sewa yang diberikan }
Jika kita menginginkan client mendapatkan IP address secara otomatis maka perlu kita setup
dhcp server pada Mikrotik. Berikut langkah-langkahnya :
a. Tambahkan IP address pool
/ip pool add name=dhcp-pool ranges=192.168.0.1-192.168.0.30
b. Tambahkan DHCP Network dan gatewaynya yang akan didistribusikan ke client.
Pada contoh ini networknya adalah 192.168.0.0/27 dan gatewaynya 122.168.0.30
/ip dhcp-server network add address=192.168.0.0/27 gateway=192.168.0.30 dns-server=192.168.0.30
comment=””
c. Tambahkan DHCP Server ( pada contoh ini dhcp diterapkan pada interface Local )
/ip dhcp-server add interface=local address-pool=dhcp-pool
d. Lihat status DHCP server
[admin@routerku] > ip dhcp-server print
Flags: X – disabled, I – invalid
# NAME INTERFACE RELAY ADDRESS-POOL LEASE-TIME ADD-ARP
0dhcp1 Local
Tanda X menyatakan bahwa DHCP server belum enable maka perlu dienablekan terlebih
dahulu pada langkah e.
e. Jangan Lupa dibuat enable dulu dhcp servernya
/ip dhcp-server enable 0
kemudian cek kembali dhcp-server seperti langkah 4, jika tanda X sudah tidak ada berarti
sudah aktif
f. Tes Dari client
Misalnya :
D:>ping www.yahoo.com
–[6]– Transparent Proxy Server
Proxy server merupakan program yang dapat mempercepat akses ke suatu web
yang sudah diakses oleh komputer lain, karena sudah di simpan didalam
caching server.Transparent proxy menguntungkan dalam management client,
karena system administrator tidak perlu lagi melakukan setup proxy di
setiap browser komputer client karena redirection dilakukan otomatis di sisi
server.
Bentuk perintah konfigurasi :
a. Setting web proxy :
- ip proxy set enable=yes
port={ port yang mau digunakan }
maximal-client-connections=1000
maximal-server-connections=1000
- ip proxy direct add src-address={ network yang akan di
NAT} action=allow
- ip web-proxy set parent-proxy={proxy parent/optional}
hostname={ nama host untuk proxy/optional}
port={port yang mau digunakan}
src-address={ address yang akan digunakan untuk koneksi
ke parent proxy/default 0.0.0.0}
transparent-proxy=yes
max-object-size={ ukuran maximal file yang akan disimpan
sebagai cache/default 4096 in Kilobytes}
max-cache-size= { ukuran maximal hardisk yang akan
dipakai sebagai penyimpan file cache/unlimited
| none | 12 in megabytes}
cache-administrator={ email administrator yang akan digunakan
apabila proxy error, status akan dikirim
ke email tersebut}
enable==yes
Contoh konfigurasi
——————-
a. Web proxy setting
/ ip web-proxy
set enabled=yes src-address=0.0.0.0 port=8080
hostname=”proxy.routerku.co.id” transparent-proxy=yes
parent-proxy=0.0.0.0:0 cache-administrator=”support@routerku.co.id”
max-object-size=131072KiB cache-drive=system max-cache-size=unlimited
max-ram-cache-size=unlimited
Nat Redirect, perlu ditambahkan yaitu rule REDIRECTING untuk membelokkan
traffic HTTP menuju ke WEB-PROXY.
b. Setting firewall untuk Transparant Proxy
Bentuk perintah konfigurasi :
ip firewall nat add chain=dstnat
protocol=tcp
dst-port=80
action=redirect
to-ports={ port proxy }
Perintahnya:
——————————————————————————–
/ ip firewall nat
add chain=dstnat protocol=tcp dst-port=80 action=redirect to-ports=8080
comment=”” disabled=no
add chain=dstnat protocol=tcp dst-port=3128 action=redirect to-ports=8080
comment=”” disabled=no
add chain=dstnat protocol=tcp dst-port=8000 action=redirect to-ports=8080
——————————————————————————–
perintah diatas dimaksudkan, agar semua trafik yang menuju Port 80,3128,8000
dibelokkan menuju port 8080 yaitu portnya Web-Proxy.
CATATAN:
Perintah
/ip web-proxy print { untuk melihat hasil konfigurasi web-proxy}
/ip web-proxy monitor { untuk monitoring kerja web-proxy}
–[7]– Bandwidth Management
QoS memegang peranan sangat penting dalam hal memberikan pelayanan
yang baik pada client. Untuk itu kita memerlukan bandwidth management
untuk mengatur tiap data yang lewat, sehingga pembagian bandwidth menjadi
adil. Dalam hal ini Mikrotik RouterOs juga menyertakan packet software
untuk memanagement bandwidth.
Bentuk perintah konfigurasi:
queue simple add name={ nama }
target-addresses={ ip address yang dituju }
interface={ interface yang digunakan untuk melewati data }
max-limit={ out/in }
Dibawah ini terdapat konfigurasi Trafik shaping atau bandwidth management
dengan metode Simple Queue, sesuai namanya, Jenis Queue ini memang
sederhana, namun memiliki kelemahan, kadangkala terjadi kebocoran bandwidth
atau bandwidthnya tidak secara real di monitor. Pemakaian untuk 10 Client,
Queue jenis ini tidak masalah.
Diasumsikan Client ada sebanyak 15 client, dan masing-masing client diberi
jatah bandwidth minimum sebanyak 8kbps, dan maksimum 48kbps. Sedangkan
Bandwidth totalnya sebanyak 192kbps. Untuk upstream tidak diberi rule,
berarti masing-masing client dapat menggunakan bandwidth uptream secara
maksimum. Perhatikan perintah priority, range priority di Mikrotik sebanyak
delapan. Berarti dari 1 sampai 8, priority 1 adalah priority tertinggi,
sedangkan priority 8 merupakan priority terendah.
Berikut Contoh kongirufasinya.
——————————————————————————–
/ queue simple
add name=”trafikshaping” target-addresses=192.168.0.0/27 dst-address=0.0.0.0/0
interface=all parent=none priority=1 queue=default/default
limit-at=0/64000 max-limit=0/192000 total-queue=default disabled=no
add name=”01″ target-addresses=192.168.0.1/32 dst-address=0.0.0.0/0
interface=all parent=trafikshaping priority=1 queue=default/default
limit-at=0/8000 max-limit=0/48000 total-queue=default disabled=no
add name=”02″ target-addresses=192.168.0.2/32 dst-address=0.0.0.0/0
interface=all parent=trafikshaping priority=1 queue=default/default
limit-at=0/8000 max-limit=0/48000 total-queue=default disabled=no
add name=”03″ target-addresses=192.168.0.3/32 dst-address=0.0.0.0/0
interface=all parent=trafikshaping priority=1 queue=default/default
limit-at=0/8000 max-limit=0/48000 total-queue=default disabled=no
add name=”04″ target-addresses=192.168.0.4/32 dst-address=0.0.0.0/0
interface=all parent=trafikshaping priority=1 queue=default/default
limit-at=0/8000 max-limit=0/48000 total-queue=default disabled=no
add name=”10″ target-addresses=192.168.0.25/32 dst-address=0.0.0.0/0
interface=all parent=trafikshaping priority=1 queue=default/default
limit-at=0/8000 max-limit=0/48000 total-queue=default disabled=no
add name=”05″ target-addresses=192.168.0.5/32 dst-address=0.0.0.0/0
interface=all parent=trafikshaping priority=1 queue=default/default
limit-at=0/8000 max-limit=0/48000 total-queue=default disabled=no
add name=”06″ target-addresses=192.168.0.6/32 dst-address=0.0.0.0/0
interface=all parent=trafikshaping priority=1 queue=default/default
limit-at=0/8000 max-limit=0/48000 total-queue=default disabled=no
add name=”07″ target-addresses=192.168.0.7/32 dst-address=0.0.0.0/0
interface=all parent=trafikshaping priority=1 queue=default/default
limit-at=0/8000 max-limit=0/48000 total-queue=default disabled=no
add name=”08″ target-addresses=192.168.0.8/32 dst-address=0.0.0.0/0
interface=all parent=trafikshaping priority=1 queue=default/default
limit-at=0/8000 max-limit=0/48000 total-queue=default disabled=no
add name=”09″ target-addresses=192.168.0.9/32 dst-address=0.0.0.0/0
interface=all parent=trafikshaping priority=1 queue=default/default
limit-at=0/8000 max-limit=0/48000 total-queue=default disabled=no
add name=”10″ target-addresses=192.168.0.10/32 dst-address=0.0.0.0/0
interface=all parent=trafikshaping priority=1 queue=default/default
limit-at=0/8000 max-limit=0/48000 total-queue=default disabled=no
add name=”11″ target-addresses=192.168.0.11/32 dst-address=0.0.0.0/0
interface=all parent=trafikshaping priority=1 queue=default/default
limit-at=0/8000 max-limit=0/48000 total-queue=default disabled=no
add name=”12″ target-addresses=192.168.0.12/32 dst-address=0.0.0.0/0
interface=all parent=trafikshaping priority=1 queue=default/default
limit-at=0/8000 max-limit=0/48000 total-queue=default disabled=no
add name=”13″ target-addresses=192.168.0.13/32 dst-address=0.0.0.0/0
interface=all parent=trafikshaping priority=1 queue=default/default
limit-at=0/8000 max-limit=0/48000 total-queue=default disabled=no
add name=”14″ target-addresses=192.168.0.14/32 dst-address=0.0.0.0/0
interface=all parent=trafikshaping priority=1 queue=default/default
limit-at=0/8000 max-limit=0/48000 total-queue=default disabled=no
add name=”15″ target-addresses=192.168.0.15/32 dst-address=0.0.0.0/0
interface=all parent=trafikshaping priority=1 queue=default/default
limit-at=0/8000 max-limit=0/48000 total-queue=default disabled=no
Perintah diatas karena dalam bentuk command line, bisa juga di copy
paste, selanjutnya di paste saja ke consol mikrotiknya. ingat lihat
dulu path atau direktory aktif. Silahkan dipaste saja, kalau posisi
direktorynya di Root.
——————————————————————-
Terminal vt102 detected, using multiline input mode
[admin@mikrotik] >
——————————————————————
Pilihan lain metode bandwidth manajemen ini, kalau seandainya ingin
bandwidth tersebut dibagi sama rata oleh Mikrotik, seperti bandwidth
256kbps downstream dan 256kbps upstream. Sedangkan client yang akan
mengakses sebanyak 10 client, maka otomatis masing-masing client
mendapat jatah bandwidth upstream dan downstream sebanyak 256kbps
dibagi 10. Jadi masing-masing dapat 25,6kbps. Andaikata hanya 2 Client
yang mengakses maka masing-masing dapat 128kbps.
Untuk itu dipakai type PCQ (Per Connection Queue), yang bisa secara
otomatis membagi trafik per client. Tentang jenis queue di mikrotik
ini dapat dibaca pada manualnya di http://www.mikrotik.com/testdocs/
ros/2.9/root/queue.php.
Sebelumnya perlu dibuat aturan di bagian MANGLE. Seperti :
——————————————————————–
/ip firewall mangle add chain=forward src-address=192.168.0.0/27
action=mark-connection new-connection-mark=users-con
/ip firewall mangle add connection-mark=users-con action=mark-packet
new-packet-mark=users chain=forward
———————————————————————-
Karena type PCQ belum ada, maka perlu ditambah, ada 2 type PCQ ini.
Pertama diberi nama pcq-download, yang akan mengatur semua trafik
melalui alamat tujuan/destination address. Trafik ini melewati
interface Local. Sehingga semua traffik download/downstream yang
datang dari jaringan 192.168.0.0/27 akan dibagi secara otomatis.
Tipe PCQ kedua, dinamakan pcq-upload, untuk mengatur semua trafik upstream
yang berasal dari alamat asal/source address. Trafik ini melewati
interface public. Sehingga semua traffik upload/upstream yang berasal
dari jaringan 192.168.0.0/27 akan dibagi secara otomatis.
Perintah:
————————————————————————-
/queue type add name=pcq-download kind=pcq pcq-classifier=dst-address
/queue type add name=pcq-upload kind=pcq pcq-classifier=src-address
————————————————————————-
Setelah aturan untuk PCQ dan Mangle ditambahkan, sekarang untuk aturan
pembagian trafiknya. Queue yang dipakai adalah Queue Tree, Yaitu:
————————————————————————-
/queue tree add parent=Local queue=pcq-download packet-mark=users
/queue tree add parent=Public queue=pcq-upload packet-mark=users
————————————————————————-
Perintah diatas mengasumsikan, kalau bandwidth yang diterima dari provider
Internet berflukstuasi atau berubah-rubah. Jika kita yakin bahwa bandwidth
yang diterima, misalkan dapat 256kbs downstream, dan 256kbps upstream, maka
ada lagi aturannya, seperti :
Untuk trafik downstreamnya :
————————————————————————
/queue tree add name=Download parent=Local max-limit=256k
/queue tree add parent=Download queue=pcq-download packet-mark=users
————————————————————————-
Dan trafik upstreamnya :
—————————————————————————
/queue tree add name=Upload parent=Public max-limit=256k
/queue tree add parent=Upload queue=pcq-upload packet-mark=users
—————————————————————————
–[8]– Monitor MRTG via Web
Fasilitas ini diperlukan untuk monitoring trafik dalam bentuk grafik, dapat
dilihat dengan menggunakan browser. MRTG (The Multi Router Traffic Grapher)
telah dibuild sedemikian rupa, sehingga memudahkan kita memakainya. Telah
tersedia dipaket dasarnya.
Contoh konfigurasinya
————————————————————————-
/ tool graphing
set store-every=5min
/ tool graphing interface
add interface=all allow-address=0.0.0.0/0 store-on-disk=yes disabled=no
—————————————————————————
Perintah diatas akan menampilkan grafik dari trafik yang melewati interface
jaringan baik berupa Interface Public dan Interface Local, yang dirender
setiap 5 menit sekali. Juga dapat diatur Alamat apa saja yang dapat mengakses
MRTG ini, pada parameter allow-address.
–[9]– Keamanan di Mikrotik
Setelah beberapa Konfigurasi diatas telah disiapkan, tentu tidak lupa kita
perhatikan keamanan dari Mesin gateway Mikrotik ini, ada beberapa fasilitas
yang dipergunakan. Dalam hal ini akan dibahas tentang Firewallnya. Fasilitas
Firewall ini secara pringsip serupa dengan IP TABLES di Gnu/Linux hanya saja
beberapa perintah telah di sederhanakan namun berdaya guna.
Di Mikrotik perintah firewall ini terdapat dalam modus IP, yaitu
[admin@routerku] > /ip firewall
Terdapat beberapa packet filter seperti mangle, nat, dan filter.
————————————————————————-
[admin@routerku] ip firewall> ?
Firewall allows IP packet filtering on per packet basis.
.. — go up to ip
mangle/ — The packet marking management
nat/ — Network Address Translation
connection/ — Active connections
filter/ — Firewall filters
address-list/ –
service-port/ — Service port management
export –
————————————————————————–
Untuk kali ini kita akan lihat konfigurasi pada ip firewall filternya.
Karena Luasnya parameter dari firewall filter ini untuk pembahasan Firewall
Filter selengkapnya dapat dilihat pada manual mikrotik, di
http://www.mikrotik.com/testdocs/ros/2.9/ip/filter.php
Konfigurasi dibawah ini dapat memblokir beberapa Trojan, Virus, Backdoor
yang telah dikenali sebelumnya baik Nomor Port yang dipakai serta Protokolnya.
Juga telah di konfigurasikan untuk menahan Flooding dari Jaringan Publik dan
jaringan Lokal. Serta pemberian rule untuk Access control agar, Rentang
jaringan tertentu saja yang bisa melakukan Remote atau mengakses service
tertentu terhadap Mesin Mikrotik kita.
Contoh Aplikasi Filternya
—————————————————————————–
/ ip firewall filter
add chain=input connection-state=invalid action=drop comment=”Drop Invalid
connections” disabled=no
add chain=input src-address=!192.168.0.0/27 protocol=tcp src-port=1024-65535
dst-port=8080 action=drop comment=”Block to Proxy” disabled=no
add chain=input protocol=udp dst-port=12667 action=drop comment=”Trinoo”
disabled=no
add chain=input protocol=udp dst-port=27665 action=drop comment=”Trinoo”
disabled=no
add chain=input protocol=udp dst-port=31335 action=drop comment=”Trinoo”
disabled=no
add chain=input protocol=udp dst-port=27444 action=drop comment=”Trinoo”
disabled=no
add chain=input protocol=udp dst-port=34555 action=drop comment=”Trinoo”
disabled=no
add chain=input protocol=udp dst-port=35555 action=drop comment=”Trinoo”
disabled=no
add chain=input protocol=tcp dst-port=27444 action=drop comment=”Trinoo”
disabled=no
add chain=input protocol=tcp dst-port=27665 action=drop comment=”Trinoo”
disabled=no
add chain=input protocol=tcp dst-port=31335 action=drop comment=”Trinoo”
disabled=no
add chain=input protocol=tcp dst-port=31846 action=drop comment=”Trinoo”
disabled=no
add chain=input protocol=tcp dst-port=34555 action=drop comment=”Trinoo”
disabled=no
add chain=input protocol=tcp dst-port=35555 action=drop comment=”Trinoo”
disabled=no
add chain=input connection-state=established action=accept comment=”Allow
Established connections” disabled=no
add chain=input protocol=udp action=accept comment=”Allow UDP” disabled=no
add chain=input protocol=icmp action=accept comment=”Allow ICMP” disabled=no
add chain=input src-address=192.168.0.0/27 action=accept comment=”Allow access
to router from known network” disabled=no
add chain=input action=drop comment=”Drop anything else” disabled=no
add chain=forward protocol=tcp connection-state=invalid action=drop
comment=”drop invalid connections” disabled=no
add chain=forward connection-state=established action=accept comment=”allow
already established connections” disabled=no
add chain=forward connection-state=related action=accept comment=”allow
related connections” disabled=no
add chain=forward src-address=0.0.0.0/8 action=drop comment=”” disabled=no
add chain=forward dst-address=0.0.0.0/8 action=drop comment=”” disabled=no
add chain=forward src-address=127.0.0.0/8 action=drop comment=”” disabled=no
add chain=forward dst-address=127.0.0.0/8 action=drop comment=”” disabled=no
add chain=forward src-address=224.0.0.0/3 action=drop comment=”” disabled=no
add chain=forward dst-address=224.0.0.0/3 action=drop comment=”” disabled=no
add chain=forward protocol=tcp action=jump jump-target=tcp comment=””
disabled=no
add chain=forward protocol=udp action=jump jump-target=udp comment=””
disabled=no
add chain=forward protocol=icmp action=jump jump-target=icmp comment=””
disabled=no
add chain=tcp protocol=tcp dst-port=69 action=drop comment=”deny TFTP”
disabled=no
add chain=tcp protocol=tcp dst-port=111 action=drop comment=”deny RPC
portmapper” disabled=no
add chain=tcp protocol=tcp dst-port=135 action=drop comment=”deny RPC
portmapper” disabled=no
add chain=tcp protocol=tcp dst-port=137-139 action=drop comment=”deny NBT”
disabled=no
add chain=tcp protocol=tcp dst-port=445 action=drop comment=”deny cifs”
disabled=no
add chain=tcp protocol=tcp dst-port=2049 action=drop comment=”deny NFS”
disabled=no
add chain=tcp protocol=tcp dst-port=12345-12346 action=drop comment=”deny
NetBus” disabled=no
add chain=tcp protocol=tcp dst-port=20034 action=drop comment=”deny NetBus”
disabled=no
add chain=tcp protocol=tcp dst-port=3133 action=drop comment=”deny
BackOriffice” disabled=no
add chain=tcp protocol=tcp dst-port=67-68 action=drop comment=”deny DHCP”
disabled=no
add chain=udp protocol=udp dst-port=69 action=drop comment=”deny TFTP”
disabled=no
add chain=udp protocol=udp dst-port=111 action=drop comment=”deny PRC
portmapper” disabled=no
add chain=udp protocol=udp dst-port=135 action=drop comment=”deny PRC
portmapper” disabled=no
add chain=udp protocol=udp dst-port=137-139 action=drop comment=”deny NBT”
disabled=no
add chain=udp protocol=udp dst-port=2049 action=drop comment=”deny NFS”
disabled=no
add chain=udp protocol=udp dst-port=3133 action=drop comment=”deny
BackOriffice” disabled=no
add chain=input protocol=tcp psd=21,3s,3,1 action=add-src-to-address-list
address-list=”port scanners” address-list-timeout=2w comment=”Port
scanners to list ” disabled=no
add chain=input protocol=tcp tcp-flags=fin,!syn,!rst,!psh,!ack,!urg
action=add-src-to-address-list address-list=”port scanners”
address-list-timeout=2w comment=”NMAP FIN Stealth scan” disabled=no
add chain=input protocol=tcp tcp-flags=fin,syn action=add-src-to-address-list
address-list=”port scanners” address-list-timeout=2w comment=”SYN/FIN
scan” disabled=no
add chain=input protocol=tcp tcp-flags=syn,rst action=add-src-to-address-list
address-list=”port scanners” address-list-timeout=2w comment=”SYN/RST
scan” disabled=no
add chain=input protocol=tcp tcp-flags=fin,psh,urg,!syn,!rst,!ack
action=add-src-to-address-list address-list=”port scanners”
address-list-timeout=2w comment=”FIN/PSH/URG scan” disabled=no
add chain=input protocol=tcp tcp-flags=fin,syn,rst,psh,ack,urg
action=add-src-to-address-list address-list=”port scanners”
address-list-timeout=2w comment=”ALL/ALL scan” disabled=no
add chain=input protocol=tcp tcp-flags=!fin,!syn,!rst,!psh,!ack,!urg
action=add-src-to-address-list address-list=”port scanners”
address-list-timeout=2w comment=”NMAP NULL scan” disabled=no
add chain=input src-address-list=”port scanners” action=drop comment=”dropping
port scanners” disabled=no
add chain=icmp protocol=icmp icmp-options=0:0 action=accept comment=”drop
invalid connections” disabled=no
add chain=icmp protocol=icmp icmp-options=3:0 action=accept comment=”allow
established connections” disabled=no
add chain=icmp protocol=icmp icmp-options=3:1 action=accept comment=”allow
already established connections” disabled=no
add chain=icmp protocol=icmp icmp-options=4:0 action=accept comment=”allow
source quench” disabled=no
add chain=icmp protocol=icmp icmp-options=8:0 action=accept comment=”allow
echo request” disabled=no
add chain=icmp protocol=icmp icmp-options=11:0 action=accept comment=”allow
time exceed” disabled=no
add chain=icmp protocol=icmp icmp-options=12:0 action=accept comment=”allow
parameter bad” disabled=no
add chain=icmp action=drop comment=”deny all other types” disabled=no
add chain=tcp protocol=tcp dst-port=25 action=reject
reject-with=icmp-network-unreachable comment=”Smtp” disabled=no
add chain=tcp protocol=udp dst-port=25 action=reject
reject-with=icmp-network-unreachable comment=”Smtp” disabled=no
add chain=tcp protocol=tcp dst-port=110 action=reject
reject-with=icmp-network-unreachable comment=”Smtp” disabled=no
add chain=tcp protocol=udp dst-port=110 action=reject
reject-with=icmp-network-unreachable comment=”Smtp” disabled=no
add chain=tcp protocol=udp dst-port=110 action=reject
reject-with=icmp-network-unreachable comment=”Smtp” disabled=no
—————————————————————————–
–[10.1]– Service dan Melihat Service yang Aktif dengan PortScanner
Untuk memastikan Service apa saja yang aktif di Mesin mikrotik, perlu kita
pindai terhadap port tertentu, seandainya ada service yang tidak dibutuhkan,
sebaiknya dimatikan saja.
Untuk menonaktifkan dan mengaktifkan servise, perintah adalah :
Kita periksa dahulu service apa saja yang aktif
———————————————————————————-
[admin@routerku] > ip service
[admin@routerku] ip service> print
Flags: X – disabled, I – invalid
#   NAME                                  PORT  ADDRESS            CERTIFICATE
0 X telnet                                23    0.0.0.0/0
1   ftp                                   21    0.0.0.0/0
2   www                                   80    0.0.0.0/0
3   ssh                                   22    0.0.0.0/0
4   www-ssl                               443   0.0.0.0/0          none
[admin@routerku] ip service>
———————————————————————————-
Misalkan service FTP akan dinonaktifkan, yaitu di daftar diatas terletak pada
nomor 1 (lihat bagian Flags) maka :
———————————————————————————
[admin@routerku] ip service> set 1 disabled=yes
———————————————————————————
Perlu kita periksa lagi,
———————————————————————————
[admin@routerku] ip service> print
Flags: X – disabled, I – invalid
#   NAME                                  PORT  ADDRESS            CERTIFICATE
0 X telnet                                23    0.0.0.0/0
1 X ftp                                   21    0.0.0.0/0
2   www                                   80    0.0.0.0/0
3   ssh                                   22    0.0.0.0/0
4   www-ssl                               443   0.0.0.0/0          none
[admin@router.dprd.provinsi] ip service>
———————————————————————————
Sekarang service FTP telah dinonaktifkan.
Dengan memakai tool nmap kita dapat mencek port apa saja yang aktif pada mesin
gateway yang telah dikonfigurasikan.
Perintah : nmap -vv -sS -sV -P0 192.168.0.30
Hasil :
————————————————————————————-
Starting Nmap 4.20 ( http://insecure.org ) at 2007-04-04 19:55 SE Asia Standard Time
Initiating ARP Ping Scan at 19:55
Scanning 192.168.0.30 [1 port]
Completed ARP Ping Scan at 19:55, 0.31s elapsed (1 total hosts)
Initiating Parallel DNS resolution of 1 host. at 19:55
Completed Parallel DNS resolution of 1 host. at 19:55, 0.05s elapsed
Initiating SYN Stealth Scan at 19:55
Scanning  192.168.0.30 [1697 ports]
Discovered open port 22/tcp on 192.168.0.30
Discovered open port 53/tcp on 192.168.0.30
Discovered open port 80/tcp on 192.168.0.30
Discovered open port 21/tcp on 192.168.0.30
Discovered open port 3986/tcp on 192.168.0.30
Discovered open port 2000/tcp on 192.168.0.30
Discovered open port 8080/tcp on 192.168.0.30
Discovered open port 3128/tcp on 192.168.0.30
Completed SYN Stealth Scan at 19:55, 7.42s elapsed (1697 total ports)
Initiating Service scan at 19:55
Scanning 8 services on 192.168.0.30
Completed Service scan at 19:57, 113.80s elapsed (8 services on 1 host)
Host  192.168.0.30 appears to be up … good.
Interesting ports on 192.168.0.30:
Not shown: 1689 closed ports
PORT     STATE SERVICE         VERSION
21/tcp   open  ftp             MikroTik router ftpd 2.9.27
22/tcp   open  ssh             OpenSSH 2.3.0 mikrotik 2.9.27 (protocol 1.99)
53/tcp   open  domain?
80/tcp   open  http            MikroTik router http config
2000/tcp open  callbook?
3128/tcp open  http-proxy      Squid webproxy 2.5.STABLE11
3986/tcp open  mapper-ws_ethd?
8080/tcp open  http-proxy      Squid webproxy 2.5.STABLE11
2 services unrecognized despite returning data. If you know the service/version,
please submit the following fingerprints at
http://www.insecure.org/cgi-bin/servicefp-submit.cgi :
==============NEXT SERVICE FINGERPRINT (SUBMIT INDIVIDUALLY)==============
SF-Port53-TCP:V=4.20%I=7%D=4/4%Time=4613A03C%P=i686-pc-windows-windows%r(D
SF:NSVersionBindReq,E,”x0cx06x81x84″)%r(DNSStatusR
SF:equest,E,”x0cx90x84″);
==============NEXT SERVICE FINGERPRINT (SUBMIT INDIVIDUALLY)==============
SF-Port2000-TCP:V=4.20%I=7%D=4/4%Time=4613A037%P=i686-pc-windows-windows%r
SF:(NULL,4,”x01″)%r(GenericLines,4,”x01″)%r(GetRequest,18,”
SF:x01x02d?xe4{x9dx02x1axccx8bxd1Vxb2Fxff9xb0″)%r(
SF:HTTPOptions,18,”x01x02d?xe4{x9dx02x1axccx8bxd1Vx
SF:b2Fxff9xb0″)%r(RTSPRequest,18,”x01x02d?xe4{x9dx02x
SF:1axccx8bxd1Vxb2Fxff9xb0″)%r(RPCCheck,18,”x01x02d?
SF:xe4{x9dx02x1axccx8bxd1Vxb2Fxff9xb0″)%r(DNSVersionBindReq,18,”
SF:x01x02d?xe4{x9dx02x1axccx8bxd1Vxb2Fxff9xb0″)%r(
SF:DNSStatusRequest,4,”x01″)%r(Help,4,”x01″)%r(X11Probe,4,”
SF:x01″)%r(FourOhFourRequest,18,”x01x02xb9x15&xf1A
SF:]+x11nxf6x9bxa0,xb0xe1xa5″)%r(LPDString,4,”x01″)%r(LDAP
SF:BindReq,4,”x01″)%r(LANDesk-RC,18,”x01x02xb9x15&
SF:xf1A]+x11nxf6x9bxa0,xb0xe1xa5″)%r(TerminalServer,4,”x01
SF:0″)%r(NCP,18,”x01x02xb9x15&xf1A]+x11nxf6x9bxa0,
SF:xb0xe1xa5″)%r(NotesRPC,18,”x01x02xb9x15&xf1A]+x1
SF:1nxf6x9bxa0,xb0xe1xa5″)%r(NessusTPv10,4,”x01″);
MAC Address: 00:90:4C:91:77:02 (Epigram)
Service Info: Host: routerku; Device: router
Service detection performed. Please report any incorrect results at
http://insecure.org/nmap/submit/ .
Nmap finished: 1 IP address (1 host up) scanned in 123.031 seconds
Raw packets sent: 1706 (75.062KB) | Rcvd: 1722 (79.450KB)
—————————————————————————
Dari hasil scanning tersebut dapat kita ambil kesimpulan, bahwa service dan
port yang aktif adalah FTP dalam versi MikroTik router ftpd 2.9.27. Untuk
SSH dengan versi OpenSSH 2.3.0 mikrotik 2.9.27 (protocol 1.99). Serta Web
proxy memakai Squid dalam versi Squid webproxy 2.5.STABLE11.
Tentu saja pihak vendor mikrotik telah melakukan patch terhadap Hole atau
Vulnerabilities dari Versi Protocol diatas.
–[10.2]– Tool administrasi Jaringan
Secara praktis terdapat beberapa tool yang dapat dimanfaatkan dalam mela
kukan troubleshooting jaringan, seperti tool ping, traceroute, SSH, dll.
Beberapa tool yang sering digunakan nantinya dalam administrasi sehari-hari
adalah :
o Telnet
o SSH
o Traceroute
o Sniffer
a. Telnet
Perintah remote mesin ini hampir sama penggunaan dengan telnet yang ada
di Linux atau Windows.
[admin@routerku] > system telnet ?
Perintah diatas untuk melihat sekilias paramater apa saja yang ada. Misalnya
mesin remote dengan ip address 192.168.0.21 dan port 23. Maka
[admin@routerku] > system telnet 192.168.0.21
Penggunaan telnet sebaiknya dibatasi untuk kondisi tertentu dengan alasan
keamanan, seperti kita ketahui, packet data yang dikirim melalui telnet
belum di enskripsi. Agar lebih amannya kita pergunakan SSH.
b. SSH
Sama dengan telnet perintah ini juga diperlukan dalam remote mesin, serta
pringsipnya sama juga parameternya dengan perintah di Linux dan Windows.
[admin@routerku] > system ssh 192.168.0.21
Parameter SSH diatas, sedikit perbedaan dengan telnet. Jika lihat helpnya
memiliki parameter tambahan yaitu user.
——————————————————————————
[admin@routerku] > system ssh ?
The SSH feature can be used with various SSH Telnet clients to securely connect
to and administrate the router
<address> –
user — User name
port — Port number
[admin@routerku] >
——————————————————————————
Misalkan kita akan melakukan remote pada suatu mesin dengan sistem
operasinya Linux, yang memiliki Account, username Root dan Password
123456 pada Address 66.213.7.30. Maka perintahnya,
—————————————————————————–
[admin@routerku] > system ssh 66.213.7.30 user=root
root@66.213.7.30′s password:
—————————————————————————-
c. Traceroute
Mengetahui hops atau router apa saja yang dilewati suatu packet sampai packet
itu terkirim ke tujuan, lazimnya kita menggunakan traceroute. Dengan tool ini
dapat di analisa kemana saja route dari jalannya packet.
Misalkan ingin mengetahui jalannya packet yang menuju server yahoo, maka:
—————————————————————————-
[admin@routerku] > tool traceroute yahoo.com  ADDRESS  STATUS
1 63.219.6.nnn    00:00:00 00:00:00 00:00:00
2 222.124.4.nnn   00:00:00 00:00:00 00:00:00
3 192.168.34.41   00:00:00 00:00:00 00:00:00
4 61.94.1.253     00:00:00 00:00:00 00:00:00
5 203.208.143.173 00:00:00 00:00:00 00:00:00
6 203.208.182.5   00:00:00 00:00:00 00:00:00
7 203.208.182.114 00:00:00 00:00:00 00:00:00
8 203.208.168.118 00:00:00 00:00:00 00:00:00
9 203.208.168.134  timeout 00:00:00 00:00:00
10 216.115.101.34  00:00:00  timeout  timeout
11 216.115.101.129  timeout  timeout 00:00:00
12 216.115.108.1    timeout  timeout 00:00:00
13 216.109.120.249 00:00:00 00:00:00 00:00:00
14 216.109.112.135 00:00:00  timeout  timeout
——————————————————————————
d. Sniffer
Kita dapat menangkap dan menyadap packet-packet yang berjalan
di jaringan kita, tool ini telah disediakan oleh Mikrotik yang berguna
dalam menganalisa trafik.
—————————————————————————-
[admin@routerku] > tool sniffer
Packet sniffering
.. — go up to tool
start — Start/reset sniffering
stop — Stop sniffering
save — Save currently sniffed packets
packet/ — Sniffed packets management
protocol/ — Protocol management
host/ — Host management
connection/ — Connection management
print –
get — get value of property
set –
edit — edit value of property
export –
—————————————————————————-
Untuk memulai proses sniffing dapat menggunakan perintah Start, sedangkan
menghentikannya dapat menggunaka perintah Stop.
[admin@routerku] > tool sniffer start